DRAMA TV

Drama dan Ruang Program Televisi 

".. Drama lebih identik dengan halaman panggung yang luas dan penonton bebas memilih apa yang dia lihat, tetapi dibawa oleh teknologi dalam layar kaca dengan batasan penglihatan ruang dan waktu..   ". 

"....Televisi ; Kebebasan yang dikekang waktu..." 




Drama televisi, merupakan karya audio visual drama yang menggunakan televisi sebagai media penayangannya. Sebelum jauh membahas tentang drama televisi,kita liat tentang pengertian “drama” itu sendiri.
(Diki Umbara ;2008 ) 



Drama
Drama merupakan sebuah karya yang memuat nilai artistik yang tinggi. Sebuah drama mengikuti struktur alur yang tertata.  Struktur yang tertata akan membantu penonton menikmati sebuah drama yang dipentaskan. Struktur drama memuat babak, adegan, dialog, prolog dan epilog. Babak merupakan istilah lain dari episode. Setiap babak memuat satu keutuhan kisah kecil yang menjadi keseluruhan drama. Dengan kata lain, babak merupakan bagian dari naskah drama yang merangkum sebuah peristiwa yang terjadi di suatu tempat dengan urutan waktu tertentu.
Adegan merupakan bagian dari drama yang menunjukkan perubahan peristiwa. Perubahan peristiwa ini ditandai dengan pergantian tokoh atau setting tempat dan waktu. Misalnya,; 
dalam adegan pertama terdapat tokoh A sedang berbicara dengan tokoh B. 
Kemudian mereka berjalan ke tempat lain lalu bertemu dengan tokoh C, maka terdapat perubahan adegan di dalamnya.
Dialog merupakan bagian dari naskah drama yang berupa percakapan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Dialog adalah bagian yang paling dominan dalam drama. Dialog adalah hal yang membedakan antara drama dengan jenis karya sastra yang lain. 
Prolog dan epilog merupakan bingkai dari sebuah drama.  Prolog merupakan pengantar untuk masuk ke dalam sebuah drama. Isinya adalah gambaran umum mengenai drama yang akan dimainkan. Sementara epilog adalah bagian terakhir dari pementasan drama. Isinya merupakan kesimpulan dari drama yang dimainkan. Epilog biasanya memuat makna dan pesan dari drama yang dimainkan. 
(Suwardi Endraswara (2011). Metode Pembelajaran Drama. Yogyakarta: CAPS. hlm. 11-31.) 

Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater. Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton. Drama memerlukan kualitas komunikasi, situasi dan aksi. Kualitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana sebuah konflik atau masalah dapat disajikan secara utuh dan dalam pada sebuah pementasan drama.


Program Televisi
Program televisi merupakan format program acara yang ditayangkan di televisi. banyak jenis dari program televisi tersebut. dalam setiap sebuah instansi penyiaran stasiun televisi, memiliki puluhan bahkan ratusan program acara yang siap ditayangkan maupun dalam proses produksi. selain itu banyak juga program acara yang diproduksi secara live di dalam studio stasiun televisi tersebut. Jenis program televisi dapat dibedakan berdasarkan bentuk jadi (format) teknis atau berdasarkan isi. Bentukjadi teknis merupakan bentuk jadi umum yang menjadi acuan terhadap bentuk program televisi seperti gelar wicara (talk show), dokumenter, film, kuis, musik, instruksional, dll. 

Berdasarkan isi, program televisi berbentuk non-berita dapat dibedakan antara lain berupa program hiburan, drama, olahraga, dan agama. Sedangkan untuk program televisi berbentuk berita secara garis besar digolongkan ke dalam warta penting (hard news) atau berita-berita mengenai peristiwa penting yang baru saja terjadi dan warta ringan (soft news) yang mengangkat berita bersifat ringan.  Pengaturan penayangan program televisi di sebuah stasiun televisi biasanya diatur oleh bagian pemrograman siaran atau bagian perencanaan siaran. Pada umumnya, pihak perencanaan siaran mengatur jadwal penayangan satu program televisi berdasarkan perkiraan kecenderungan menonton peminat program tersebut. Misalnya, pengaturan jadwal tayang siaran berita di pagi hari disesuaikan dengan kecenderungan peminat penonton siaran berita.


Sinetron telah terjadi perkembangan di pertelevisian Indonesia, di dalam tata laksana produksi dan konsepnya. Produksi yang dilakukan tidak hanya menggunakan setting indoor atau outdoor saja, keduanya menjadi satu bagian penting. menjadi sangat berbeda di bandingkan dengan drama televisi yang seperti drama panggung. Hanya saja drama televisi disiarakan kepada masyarakat luas secara langsung atau tapping.
Sinetron, kependekan dari sinema elektronik istilah yang digunakan secara luas di Indonesia ini pertama kali di cetuskan oleh Soemardjono, salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta. seperti scenario dalam film layar lebar. Bedanya pada film ada pada alat penyajian videonya, lalu pengambilan gambar dan jalur cerita yang diberikan juga tidak ber-seri, kelanjutan cerita tidak banyak (Fred Wibowo, 2009)
 

 

Menurut Esta de fossard john riber, dalam bukunya yang berjudul Writting and producing for television and film (2005). terdapat jenis drama yaitu biasanya berjenis tertentu dari tiga bentuk drama yang ada: the stand-alone drama (drama berdiri sendiri); the drama series (drama seri atau drama bersambung); the drama serial (serial drama).
Dalam Program acara televisi terbagi menjadi 2 yaitu: Program acara televisi drama dan program acara televisi non drama,  (News.). pada blog ini kami membahas mengenai program acara drama yang diklasifikasikan banyak jenis, jenis drama tersebut antara lain :


Stand-alone Drama Drama jenis ini selesai dalam satu kali pertunjukkan. Seperti rata-rata film lainnya, the stand-alone drama (drama yang berdiri sendiri) biasanya berdurasi 60-90 menit dan berisi satu plot utama.

Drama Series (Drama bersambung) Drama berjenis ini adalah salah satu kategori drama pendek (biasanya setiap drama seri berdurasi 20 atau 30 menit) dan di siarkan secara mingguan. Karakter utama yang sama muncul dalam setiap program seri, tetapi mereka terlibat dalam plot (cerita) yang terpisah dan utuh setiap minggunya. Drama seri dapat di bandingkan dengan strip komik pada koran umumnya: dengan karakter yang sama.

Drama serial terlibat dalam aktivitas yang berbeda setiap kali mereka muncul. Drama jenis ini adalah suatu cerita bersambung yang dibagi menjadi episode-episode (seperti bab dalam sebuah novel) yang ditampilkan secara rutin: dari hari ke hari atau minggu ke minggu selama enam bulan, satu tahun atau bahkan lebih. Pada akhir setiap episodenya, cerita yang tersisa tidak lengkap atau utuh, diakhiri dengan pertanyaan atau catatan tentang suatu ketengangan tertentu, sehingga penonton akan menonton kembali episode lanjutannya untuk mengetahui cerita selanjutnya. Biasanya, drama Hiburan-Edukatif ditampilkan satu episode per minggu dalam 6-12 bulan. Dalam beberapa kasus, drama di perpanjang dan menjadi bagian dari hiburan reguler untuk pemirsa. Misalnya, peraih penghargaan seri Afrika Selatan “Soul City” telah terkenal dan di tayangkan sejak tahun 1994 dengan serial TV mingguan.
Dalam beberapa tahun terakhir upaya perubahan sosial dari seri ini di tingkatkan atau di promosikan oleh drama radio yang di tayangkan setiap hari, dan penambahan televisi dan radio seri anak-anak, Soul Buddyz. Setiap drama dengan format seperti ini- the stand-alone drama(drama berdiri sendiri, drama seri atau drama serial bisa bersifat humor,  tragis, misterius, petualang atau dapat menggabungkan dua atau lebih emosi tersebut. Drama serial, yang biasanya berisi tiga atau lebih plot terpisah, dapat menggambarkan sejumlah emosi, misalnya, tragis dalam satu plot, lucu di bagian lain (yang mungkin juga mengandung kisah cinta) dan unsur menakutkan di penghujung plot ketiga. Dengan demikian, plot yang terpisah ini dapat di rancang sedemikian rupa untuk menarik audiencedari kalangan yang berbeda (remaja, pekerja di pedesaan, penduduk kota), tetapi dengan pencampuran plot yang halus, sehingga dapat memberikan pesan yang universal. Oleh karena itu, drama adalah media yang kuat dan akan digunakan untuk menunjukkan perubahan sosial yang positif kepada audience dan mendorong penonton agar memperbaiki kehidupan mereka dengan melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Harus di pahami, bagaimanapun bahwa drama yang mengubah perilaku (atau drama Hiburan-Edukatif) dan berbeda dari cara pembuatan dengan drama yang di rancang murni untuk hiburan. Perbedaan utama adalah adanya integrasi atau kombinasi pesan pendidikan yang jelas ke dalam cerita yang menghibur dan supaya ini berhasil, maka harus ada perencanaan yang matang sejak awal proyek atau rencana.

Menurut Fred Wibowo (2009 : 239) di dalam seni drama konvensional terdapat sekurang – kurangnya empat unsur yang terlibat di dalam suatu pementasan sebagai berikut :
a)      Lakon atau cerita yang di tampilkan berwujud sebuah naskah
b)      Pemain adalah orang yang membawakan lakon itu
c)      Panggung tempat para pemain yang membawakan lakon itu melakukan tindakan – tindakan seperti yang tertulis dalam lakon.
Penonton adalah sekelompok orang yang memeriahkan sebagaian dari kemerdekaanya untuk menjadi bagian dari took yang dalam suatu lakon dan menikmatinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ininnawa sabbarae

Tinjauan Gubernur Ke ISBI Sul Sel.

CANDI KIDAL